Selasa, 01 Juni 2010

Hemat Vs Pelit



Antara hemat dan pelit itu beda tipis, itu yang saya tangkap dari pandangan beberapa orang.
Menurut saya, pelit sama hemat beda sekali.

Pelit maunya semua yang paling murah, nggak mikir kualitas terhadap barang, terus kalo bisayah gratisan.

Hemat adalah jika kita bisa mendapatkan manfaat maksimal dengan biaya yang paling minim. (saya dapat dari tabloid Kontan)

Selama ini jika berbelanja saya berusaha seperti itu. Berarti saya hemat donk. Kan nggak semuaorang punya pohon duit.

Sering saya perhatikan orang berbelanja barang tanpa melihat label harga. Wah kalau saya bisadech. Saya selalu membandingkan antara brand yang satu dengan yang lain, kemasanbesar dengan yang kecil. Kalau menyangkut makanan, komposisi juga saya perhatikan. Dan sayajuga rajin menyimpan struk belanja, gunanya supaya saya bisa membedakan tempat yang satudengan yang lainnya.

Saya paling sebal sama orang yang mempunyai prinsip kalo mahal pasti paling bagus. Untukbeberapa jenis barang saya akui memang sepeti itu. Tapi tidak semua barang.
mules

Saya kenal seseorang yang selalu membeli snack untuk anaknya harus yang paling mahal danharus buatan luar negeri tanpa membaca kandungannya. Padahal setelah saya baca, mengandung MSG. Rasanya saya pingin ketawa keras-keras.

Tapi saya juga paling sebal sama orang yang mempunyai prinsip, yang penting murah. Jangansampai dech kejadian murah diawal jadi mahal diakhir.

Intinya segala sesuatu harus dipertimbangkan, jangan sampai menyesal nantinya.


Minggu, 30 Mei 2010

Ibu-ibu



Dulu sekali waktu saya masih ABG, masih sedang lucu-lucunya, sedang imut-imutnya. Kalau bertemu gerombolan ibu-ibu, saya suka terheran-heran. Apa saja sih yang mereka obrolkan? Sudah kalau tertawa tidak mengenal tempat. Berisik. Kadang tertangkap obrolan mereka yang saya tidak mengerti dan ujung-ujungnya mereka tertawa keras.

Duh, pusing deh kalau dekat-dekat mereka. Dulu. Itu dulu.

Sekarang? Sekarang saya bukan ABG lagi. Sekarang saya seorang Ibu beranak dua. Sekarang, saya bagian dari mereka.

Kalau sedang kumpul dengan sesama ibu-ibu, saya senang tertawa keras-keras. Saya tidak perduli dengan sekeliling.

Obrolan-obrolan mereka yang dulu saya tidak mengerti, sekarang sudah saya mengerti.

Sebenarnya apa sih yang membuat kami ibu-ibu tertawa seru seperti itu. Yah, nggak lain adalah urusan S E X.

Buat sebagian orang dianggap tabu, tapi buat beberapa orang merupakan topik yang menyenangkan, seru.